TKI Dihukum Mati di Arab Saudi, Cucu Terus Menangis Jelang Eksekusi Zaini

By Angelice Onggi - Rabu, Maret 21, 2018


AGEN SBOBET,Tangisan pilu Cucu pertama almarhum Mochammad Zaini, Sabtu (17/3/2018) malam lalu ternyata menjadi pertanda bakal datangnya berita duka.

Zaini, tenaga kerja Indonesia (TKI) di Arab Saudi, warga Desa Kebun, Kecamatan Kamal, Bangkalan, Madura, menjalani eksekusi hukuman mati dengan cara dipancung.

"Anak saya menangis terus, diberi susu tetap saja tidak mau berhenti menangis," ungkap Syaiful Thoriq (26), putra sulung Zaini.

Ia baru menerima kabar ayahnya telah menjalani hukuman mati setelah pemerintah Arab Saudi melaksanakan eksekusi mati pada Minggu (18/3/2018).

"Saya dan adik baru tahu Bapak telah tiada setelah dihubungi paman, Hidir Syahyanto, yang menelpon dari Arab Saudi," ujarnya.

Hidir Syahyanto merupakan satu satunya keluarga yang terakhir kali berkomunikasi melalui telpon dengan Zaini sebelum eksekusi.

Istri almarhum yang juga TKI di Arab Saudi, Ny Naimah (44), tidak tahu mengenai eksekusi mati terhadap suaminya.

Padahal, Ny Naimah pulang tiga bulan lalu dan kembali ke Arab Saudi pada Sabtu.

Thoriq mengatakan, almarhum berpesan melalui Hidir Syahyanto agar dirinya dan Mustofa mengikhlaskan kepergiannya.

Zaini berharap keduanya menjadi pekerja keras dan penuh perhatian kepada keluarga.

"Abah (almarhum) juga berpesan agar menjaga dan memperhatikan Umi (Ny Naimah) ketika datang dari Arab," tambah Thoriq yang saat ini bekerja sebagai tenaga pemasaran air mineral.

Putra bungsu, Mustofa (18), belum mengetahui rencana selanjutnya sepeninggalan Zaini. Namun pemuda tamatan jurusan mesin SMKN Bangkalan itu mengaku ingin mengembangkan keahliannya kelak.

"Saya dan kakak hanya bisa menangis saat mendengar abah telah tiada," singkatnya.

Eksekusi terhadap Zaini pada sekira 11.00 waktu Arab Saudi menyisakan pertanyaan besar bagi pemerintah Indonesia.

Pasalnya, Zaini tetap ngotot tidak mengakui pembunuhan terhadap majikannya, Abdullah bin Umar.

Ada kejanggalan

Direktur Perlindungan WNI Kementrian Luar Negeri (Kememlu) Lalu Moh Iqbal mengungkapkan, Zaini tidak mungkin tega membunuh Abdullah bin Umar. Alasannya, hubungan antara Zaini dan majikannya sangat baik.

"Ada satu saksi kunci bernama Sumiati, asal Madura. Usai terjadi pembunuhan, teman kerja almarhum (Zaini) itu menghilang," ungkap Iqbal ketika ditemui di rumah duka, Senin.

Pihaknya terus memburu keberadaan Sumiati melalui kantor imigrasi, Dinas Ketenagakerjaan Bangkalan, bahkan meminta bantuan sejumlah pondok pesantren.

"Namun (Sumiati) tidak berhasil ditemukan. Keberadaannya seolah ditelan bumi hingga eksekusi akhirnya dilaksanakan," jelasnya.

Kejanggalan lain, Ujar Moh Iqbal, dalam berita acara pemeriksaan (BAP) Kepolisian Arab Saudi tidak disebutkan motif pembunuhan yang dituduhkan kepada Zaini.

"Anehnya, hakim memutuskan Zaini bersalah atas pembunuhan terhadap majikannya. Dalam sidang dihadirkan 21 saksi," ujarnya.

Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah Indonesia untuk menunda eksekusi dan membebaskan Zaini dari tuduhan pembunuhan.

Seperti melayangkan banding, kasasi, hingga peninjauan kembali.

Zaini bahkan berkirim surat kepada Raja Arab Saudi, Salman, yang direspon dengan penyelidikan ulang. "Harusnya pelaksanaan eksekusi dilakukan sejak 2008 namun terus ditunda," jelasnya.

Namun pada akhirnya, keputusan eksekusi mati bagi Zaini tetap dilakukan karena pihak ahli waris koraban tidak bersedia mengampuni.

"Hukum Qisas bisa dibatalkan jika pihak ahli waris mengampuni. Namun ini adalah takdir, semoga almarhum Zaini meninggal dalam keadaan khusnul khotimah," ujar Iqbal.

Hasilkan Rp 18 Juta saat Dipenjara

JIWA pekerja keras pada diri Mochammad Zaini (47) memang sudah terlihat sejak masih menjadi sopir angkutan di Bangkalan, Madura, Jawa Timur.

Meski dirinya berada dalam penjara Umumi Kota Makkah, Arab Saudi, Zaini masih mampu menghasilkan uang yaitu menjadi tukang cukur rambut di balik terali besi.

Kini, pria yang akrab disapa Slamet di kampung halamannya itu telah berpulang.

"Slamet pekerja keras. Ia memutuskan pergi ke Arab karena ingin lebih membahagiakan keluarganya," ungkap tetangga di kampung halaman, Munir (40), yang pernah bekerja bersama Zaini sebagai sopir angkutan.

Zaini meninggalkan Tanah Air pada 1992 dan memilih sebagai sopir pribadi di negara Arab Saudi.

Sembilan tahun kemudian, 2001, ia pulang ke kampung halaman dan membuat kios kecil yang melekat di sisi kanan rumahnya.

Putra sulungnya, Syaiful Thoriq, sang ayah memutuskan berangkat kembali ke Arab Saudi karena membutuhkan modal usaha toko yang dibangunnya.

"Bapak memang ingin berhenti menjadi TKI dan ingin membuka usaha toko di rumah. Tapi terpaksa kembali berangkat karena butuh modal," tutur Thoriq.

Namun petaka menimpa Zaini pada 13 Juli 2004. Ia ditangkap polisi Arab Saudi.

Tuduhannya tidak main-main, membunuh majikannya, Abdullah bin Umar. Kala itu, Thoriq masih berusia 12 tahun dan Mustofa berusia 2 tahun.

Harian Surya (Tribun Group) pernah berkomunikasi dengan Zaini melalui ponsel milik Thoriq pada Selasa, 8 Agustus 2014 lalu.

Saat itu Zaini membantah semua tuduhan atas meninggalnya Abdullah bin Umar.

"Ini yang membuat saya frustrasi. Saya tidak bersalah. Tapi saya tidak tahu bagaimana caranya menuntut keadilan," tutur Zaini melalui telepon.

Kendati berada di dalam penjara, Zaini tidak diam begitu saja. Ia menjadi tukang cukur rambut dadakan. Uang hasil mencukur dikirim kepada keluarganya.

Thoriq menyatakan, ia bersama Mustofa diberangkatkan Kementrian Luar Negeri untuk menemui ayahnya pada Januari 2018.

Kunjungan itu merupakan kesempatan ketiga bagi keduanya bertemu Zaini.

"Bapak memberikan uang Rp 18 juta untuk modal buka toko. Uang itu dari hasil menjadi tukang cukur rambur di dalam penjara," pungkasnya.

Pemerintah RI Tak Diberitahu

PEMERINTAH Indonesia melalui Kementrian Luar Negeri (Kemenlu) menyesalkan lambannya pemerintah Arab Saudi dalam memberikan informasi terkait pelaksanaan eksekusi mati terhadap Mochammad Zaini (47).

Kekesalan itu disampaikan Direktur Perlindungan WNI Kemenlu Lalu Moh Iqbal kala berada di rumah duka, Bangkalan, Jawa Timur, Senin (19/3).

"Pemerintah Arab Saudi tidak memberikan notifikasi apapun kepada kami. Padahal, Indonesia merupakan negara sahabat bagi Arab Saudi," ungkap Iqbal.

Ia menjelaskan, informasi tentang pelaksanaan eksekusi mati diterima pemerintah Indonesia dari sumber tak resmi, bukan dari pemerintah Arab Saudi.

"Channel kami di sana yang memberi informasi bahwa akan dilaksanakan eksekusi mati," jelasnya.

Tidak adanya notifikasi atas pelaksanaan eksekusi mati oleh pemerintah Arab Saudi terhadap warga Indonesia bukan pertama kali terjadi.

Iqbal memaparkan, hal serupa juga terjadi pada eksekusi mati terhadao Siti Zainab (44), asal Desa Martajasah, Kelurahan Malajah, pada akhir Maret 2014 silam.

"Kami sesalkan karena informasinya mendadak. Seperti halnya pelaksanaan eksekusi terhadap Zainab," paparnya.

Namun, lanjutnya, pelaksaan eksekusi sudah menjadi kebijkan pemerintah Arab Saudi.

Pemberian notifikasi kepada perwakilan negara asing atas pelaksanaan eksekusi mati memang sifatnya tidak wajib.

"Tapi seharusnya kami diberi notifikasi atas dasar persahabatan dan persaudaraan. Nenek moyang sudah bersahabat sebelum dua negara merdeka," katanya.

Dalam kesempatan itu Iqbabl mewakili Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNPTKI), Yusron Wahid, menyerahkan uang duka senilai Rp 40 juta kepada keluarga Mochammad Zaini.

"Bapak Yusron Wahid secara pribadi memberikan santunan senilai Rp 40 juta. Semoga bisa bermanfaat bagi kelurga almarhum," ungkap Iqbal.

 AGEN SBOBET

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar